Simulasi ketiga kembali digelar…
Ahidi tertidur bukan berarti buta mata hatinya, hanya saja.. perjalanan jauh nya itu membuat ia kelelahan, maklumlah karena keinginannya yang menggebu untuk segera mendapat jawaban atas misteri-misteri yang menyelimuti hidupnya selama ini..
Sebentar saja Ahidi tertidur lelap, lalu ia terbangunkan oleh gemuruh langkah-langkah kuda perang yang ditunggangi oleh sosok-sosok prajurit pilihan, jumlah mereka banyak… di belakang pasukan berkuda itu datanglah lagi segerombolan pasukan pejalan kaki yang tak kalah gagahnya dengan pasukan berkuda… Pasukan berkuda berlari cepat dan berfungsi untuk membuka lahan bagaikan pesawat-pesawat tempur militer di zaman sekarang, sedangkan pasukan pejalan kaki berfungsi untuk menduduki dan menguasai wilayah target penyerangan… Rupanya mereka adalah pasukan-pasukan pilihan dari kelompok I, mereka berbaris di belakang I seolah-olah menunggu intruksi penyerangan…
Satu intruksi titah SANG RAJA rupanya mendapatkan respon yang berbeda dari ketiga pihak…
Kelompok M, menerima intruksi itu dengan lapang dada..
Kelompok A, menerima intruksi itu sebagai amanat yang berat dan ia pun siap mengembannya…
Kelompok I, belumlah mau menerimanya… I sebagai ketua kelompok masih melakukan negosiasi dengan SANG RAJA…
Dan I pun bertanya pada SANG RAJA,”… Wahai Tuanku, bukankah aku ini lebih unggul daripada kelompok A? mana mungkin aku tunduk kepada mereka? bahkan aku hanya mau tunduk kepada-Mu dan bukan kepada budak-budak yang hina dan bodoh itu, bukankah ketundukkan itu hanya untuk-Mu wahai Rajaku…? Aku hanya ingin mengabdi kepada-Mu, tidak kepada yang lainnya…”
SANG RAJA menjawab,”Kalau kau ingin mengabdi kepadaku, maka tatilah dia, Aku telah jadikan A dan kelompoknya untuk memimpin kalian agar tunduk patuh kepada-Ku…Ikutilah kepemimpinannya, niscaya kalian akan selamat selamanya..!
I masihlah beralasan,”Aku tak mau dipimpin oleh sesuatu yang lebih rendah derajatnya daripadaku, aku lebih senior, aku lebih berpengalaman, aku lebih kuat, aku lebih pintar, bahkan aku telah membuktikan ketaatanku kepada-Mu dalam waktu yang cukup lama, sedangkan ia hanyalah budak yang baru muncul dan tak mengerti apa-apa, lemah, bahkan lebih hina dariku..”
SANG RAJA kembali menjawab,”Akulah yang akan mengajarinya sehingga ia bisa menjalankan tugasnya, siapapun yang tidak mau mengikuti perintah-Ku maka carilah kerajaan lain selain Kerajaan Ku, Pergilah kau!!! dan pastilah kau tak akan pernah menemukannya..”
I kembali menjawab.”Ya, Aku tidak akan pernah menemukannya wahai Tuanku, karena aku yakin dengan sebenarnya bahwa tiada kerajaan selain kerajaanmu, tapi aku enggan tunduk kepadanya… Tidakkah Kau mengerti maksud baikku ini wahai Raja-Ku…? Kalaulah begitu keputusan-Mu, maka aku akan buktikan bahwa mereka yang Kau anggap mulia itu takkan mampu mengemban amanat-Mu. Dan demi kemuliaan-Mu itu, ijinkanlah aku untuk membuktikan kelemahan mereka kepada-Mu, ijinkan aku untuk mengganggu dan menyesatkan mereka, berilah aku waktu untuk membuktikan kebenaran ucapanku ini, dan kau akan melihat bahwa kebanyakan mereka adalah budak-budak yang membangkang kepada-Mu”.
SANG RAJA berkata,"Aku ijinkan engkau, dan ketahuilah bahwa engkau takkan pernah bisa menyesatkan hamba-hamba yang ikhlash mengabdi kepada-Ku… Sejak saat ini, Aku vonis engkau sebagai kelompok yang melawan Kerajaan-Ku, pergilah dari hadapan-Ku sampai waktu yang Kutentukan..!"
I masihlah menimpal SANG RAJA,” Wahai Rajaku, aku pun berjanji bahwa mulai saat ini aku dan seluruh pasukanku baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki akan mengusung dan menyesatkan mereka dari segala arah dan cara hingga kebanyakan mereka menjadi pengikut kerajaan ku… pengikut yang Kau katakan sebagai para pembangkang yang makar pada Kerajaan-Mu…!"
Akhirnya sang Iblis pun keluar dari majelis itu, menyusun serta menggalang kekuatan bersama pasukan infanteri dan kavalerinya untuk berjuang mewujudkan cita-cita yang satu yakni menghalangi manusia menjalankan pengabdian kepada Allah sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya, menghancurkan kerajaan Allah yang diamanatkan kepada sang khalifah,menjauhkan manusia dari kerajaan-Nya sehingga kebanyakan manusia akan tersesat dari jalan-Nya, maka jadilah mereka pengikut Iblis, bersama-sama dalam gerbong kejahiliyahan membangun kerajaan sendiri yang keluar dan lepas dari ketentuan Allah SWT...
Pasukan Iblis akan mengepung manusia dari depan, belakang, kiri dan kanan, melakukan tipu daya , bersekutu dengan orang-orang yang dicintai dan memberikan janji-janji palsu untuk satu tujuan, membuktikan tegaknya kesesatan yang terlanjur basah karena kesombongan. Semakin kesombongan itu ada dan tak mau hilang, maka semakin jauhlah ia dari petunjuk Allah SWT, semakin jauh ia dari pusat kerajaan yang diridhoi-Nya… Bahkan sebaliknya, kesombongan dan kedengkian manusia membuat mereka semakin dekat dan terikat kuat , masuk dalam medan magnet kerajaan Iblis yang telah keluar dari lingkaran rahmat Allah SWT… laknat dari Allah bagi mereka yang memberikan hatinya pada Kerajaan Iblis!
Sang Iblis pun lupa atas kekonyolannya …Takabur telah membutakan hatinya dari kebenaran, takabur telah membuatnya menolak Kerajaan Allah, takabur telah membuatnya enggan mengikuti sistem peribadatan yang telah ditentukan-Nya, takabur menjadikan dirinya merasa lebih mulia sehingga memandang orang lain hina di hadapannya…
Ahidi menangis melihat tampilan simulasi tiga dimensi itu, ia pun tersungkur sujud… Benaknya teringat pada suatu hari di saat ia benar-benar berkarakter Iblis, di saat ketakaburan itu muncul pada dirinya.. Astaghfirullaahal’azhiim… Rupanya Ahidi pernah takabur… Ya..ketika di tengah upaya perjuangannya mengusung perubahan dengan super gigih, ia pernah bertemu seorang lelaki tua…
To be continued…

Gelar simulasi ketiga ditayangkan…
Tampaklah SANG RAJA berhadapan dengan budak-budak-Nya, para budak itu dibariskan dalam 3 (tiga) kelompok… Kelompok pertama berinisial M, Kelompok kedua I dan kelompok ketiga A… maka dipanggillah masing-masing ketua kelompok tersebut...
Lalu SANG RAJA berkata,”Wahai hamba-hamba-Ku, apakah kalian menyadari bahwa Aku ini adalah Raja Diraja, Raja kalian dan Raja di seluruh kerajaan-Ku? Dan apakah kalian tau bahwa saat ini kalian hidup dalam Kerajaan Ku? dan apakah kalian yakin bahwa tak ada kerajaan selain Kerajaan-Ku?”
Seluruh budak menjawab,”Tentu wahai SANG RAJA”.
Kemudian SANG RAJA berkata lagi,”Apakah kalian hendak mengabdi kepada Ku wahai hamba-hamba Ku?” Seluruh budak pun menjawab,”Tentulah, karena kami hadir di sini hanya untuk mengabdi kepada-Mu”.
Kata SANG RAJA,“Wahai kelompok M, engkau sebagai budak pertama, kemarilah…!!! Benarkah apa yang engkau katakan tadi?” Ketua Kelompok M menjawab,”Benar wahai TUAN-ku”.
Kata SANG RAJA,“Wahai kelompok I, engkau sebagai budak kedua, kemarilah…!!! Benarkah apa yang engkau katakan tadi?” Ketua Kelompok I menjawab,”Benar wahai TUAN-ku… apakah engkau melihat keraguan pada pernyataan ku ini…”
Kata SANG RAJA,“Wahai kelompok A, engkau sebagai budak ketiga, kemarilah…!!! Apakah benar apa yang kau nyatakan tadi bahwa engkau hendak mengabdi kepada Ku?” Kelompok A menjawab,”Tentulah TUAN-ku, benar… kami ada bukan untuk melakukan yang lain selain mengabdi kepada-Mu saja…”
Kemudian SANG RAJA berkata lagi,“Sekarang dengarlah wahai hamba-hamba Ku!! … Aku akan memberitahukan kepada kalian bagaimana CARA MENGABDI KEPADA-KU DALAM KERAJAAN-KU INI… Apakah kalian ingin mengetahuinya…?”
Para budak pun menjawab serentak,“Tentulah Wahai RAJA ku, karena hidup kami hanya untuk mengabdi kepada-Mu saja… Beritahukanlah kepada kami bagaimana cara mengabdi kepada-Mu sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki..!”
Maka SANG RAJA DIRAJA pun berfirman, “Sujudlah kalian kepadanya!!!!” Rupanya SANG RAJA berkehendak agar kelompok M dan I tunduk kepada A, dan agar seluruh anggota kelompok A pun tunduk kepada A sebagai ketuanya… itulah sistem peribadatan SANG RAJA...
Lagi-lagi SANG RAJA berkata,
”Wahai M, ketundukanmu kepada pihak A menunjukkan tugasmu untuk melayani mereka…
Wahai I, ketundukanmu kepada pihak A menunjukkan tugasmu untuk taat kepadanya menjalankan perintah-perintahnya…
Wahai A, Aku jadikan kedudukanmu seperti itu menunjukkan bahwa engkaulah yang akan memimpin kelompokmu dan kelompok I untuk tunduk patuh kepada-Ku, kelompok M tunduk patuh kepada-Ku untuk melayani kalian, maka kalian dan mereka semuanya mengabdi kepada-Ku…”
Kata SANG RAJA,"Aku memiliki dua kerajaan, satu kuamanatkan kepada kalian wahai M… Tugas pengelolaan atas kerajaanku itu sepenuhnya dalam rangka melayani mereka kelompok A… sedangkan satu kerajaan lagi Aku amanatkan kepadamu wahai A untuk ditegakkan keadilan di dalamnya dan dipelihara kelestariannya… "
Semua hamba-hamba itu heran dan bertanya-tanya… M,I dan A mengungkapkan pertanyaannya…
M bertanya,” Selama ini Engkau telah mengamanatkan kerajaan-Mu yang satu pada kami, dan kami menjalankannya tanpa pembangkangan kepada-Mu, lalu mengapa Engkau amanatkan kerajaan-Mu yang satu lagi pada kelompok A, padahal kelompok A telah Engkau jadikan mereka akan saling bertentangan dan menumpahkan darahnya di Kerajaan-Mu, tidakkah mereka akan mengotori Kerajaan-Mu..? sedangkan kami ini senantiasa menyucikan engkau tanpa pertentangan dan pertumpahan darah?”
I pun bertanya kepada SANG RAJA,” mengapa Engkau amanatkan kerajaanmu yang mulia itu pada kelompok A , padahal mereka telah Engkau jadikan dari sesuatu yang hina…, apakah ia akan mampu mengemban tugas berat itu sedangkan ia belum lah punya pengalaman?”
A juga ikut bertanya,”mengapa Engkau amanatkan kerajaan yang satu itu kepada ku, bukankah gunung yang kokoh, langit yang terbentang luas, bumi yang terhampar lebih pantas menerimanya?"
Sang Raja hanyalah menjawab,”Akulah yang Maha Mengetahui…Bukankah kalian adalah hamba-hamba Ku yang telah menyatakan siap mengabdi kepada-Ku?, bukankah kalian mengakui dan menerima Aku sebagai Raja Diraja dalam Kerajaanku ini?, bukankan kalian semua mengetahui tidak ada yang lain selain Kerajaan Ku ini?, tak ada Raja yang sebenarnya selain Aku, Bukankah begitu…?"
Semua budak, menjawab,”Tentulah Wahai Rajaku… kami menerima Engkau seperti yang Engkau katakan…”
SANG RAJA pun menegaskan kembali perintahnya,”Kalau begitu, lakukanlah perintahku, Sujudlah kalian kepadanya!!!” Seraya SANG RAJA menunjuk si A agar seluruh M, I tunduk kepadanya.
Lalu SANG RAJA pun menjelaskan kembali,”Wahai hamba-hamba-Ku, Akulah yang lebih Mengetahui tentang segalanya dari pada kalian, bukankah Aku Yang Mengajarkan kalian?, Akulah Pemilik Otoritas yang berhak memutuskan bagaimana kalian mengabdi kepada-Ku, Akulah Pemilik Legalitas yang menentukah sah dan tidaknya pengabdian kalian, dan Akulah Pemilik Loyalitas yang berhak menuntut ketunduk patuhan kalian...Akulah yang akan memberikan Cinta-Ku kepada kalian yang mencintai-Ku”
Kemudian... SANG RAJA membuktikan hakikat kebenaran putusan-Nya… bahwa untuk meraih cinta-Nya ia akan melihat hamba yang benar-benar mencintai-Nya, hamba yang mampu melepaskan keterikatan cinta kepada selain-Nya, hamba yang mampu mencintai apapun karena-Nya… tapi SANG RAJA hendak menguji hamba-Nya… bahkan SANG RAJA pun telah MENGETAHUINYA… dan SANG RAJA akan MEMBUKTIKANNYA bahwa ketulusan cinta-Nya hanya akan tertampung oleh hati hamba-Nya yang ikhlash...
Simulasi ketiga belumlah berakhir, tapi tanpa terasa Ahidi tertidur di dalam gua, matanya terpejam dalam terangnya cahaya di dalam gua itu... Seterang apa pun cahaya matahari, tiada artinya bagi mata yang terpejam... seterang apapun cahaya Ilahi, tentulah tetap gelap bagi hati yang buta...
To be continued...

Perlahan-lahan Ahidi memasuki gua itu.. kegelapan menyelimuti berbagai misteri yang terjadi di dalamya, semakin Ahidi membelalakkan matanya, maka suasana pun semakin gelap… Ahidi teringat salah satu nasehat Sang Guru,”kedua matamu akan menangkap cahaya matahari, tapi mata hatimu akan menangkap cahaya Ilahi…”
Akhirnya Ahidi memejamkan kedua matanya dan mencoba menggunakan antena hatinya... sedikit-demi sedikit, tabir kegelapan mulai terbuka, terlihat titik-titik cahaya mulai menghiasi dinding-dinding gua… semakin terang.. semakin jelas.. dan semakin tampak… Maka ia pun melihat seraya berbisik,” Ooo.. Inikah Negeri di awan..??”
Di negeri ini diajarkanlah arti berbagai nama; ketundukkan dan pembangkangan, integritas dan indisipliner, loyalitas dan bermuka dua, harapan dan keputusasaan, kemenangan dan kekalahan, petunjuk dan tipu daya, kedengkian dan penghormatan, permusuhan dan perdamaian, kesombongan dan kerendahan hati, kemuliaan dan kehinaan… dan segudang kata yang saling berlawanan sebagai sunatullah kehidupan makhluq..
Hasil pengamatan Ahidi sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tempat ini adalah wahana simulasi, tempat gemblengan dan persiapan untuk menghadapi sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang akan mengguncangkan dunia bahkan alam semesta pun akan merasakan getarannya...
'Simulasi Tempur' sengaja diciptakan untuk menghadapi skenario yang kompleks, sebuah master plan kehidupan yang penuh hikmah kebijaksanaan, refleksi Sang Pencipta Yang Maha Rahmaan dan Rahiim.. Karunia terbesar dan anugerah kehidupan yang tiada tara indahnya dalam wisata kecantikan dan kebahagiaan hakiki.. wujud kasih sayang abadi yang tak pernah bisa ditemukan pada objek-objek yang tak punya ke-Maha-an… Kerajaan Cinta, menyelenggarakan paket pelatihan ini agar manusia mampu menempuh jalan untuk meraih Cinta…
Dalam simulasi ini, peserta diperkenalkan tentang sebuah misi suci yang harus dipenuhi sebagai identitas kemuliaan sosok terlatih, dan inilah bimbingan yang paling bemanfaat untuk meraih cinta.. Lakukanlah apapun yang kau inginkan tapi larangannya hanya satu,”Janganlah kau dekati pohon ini…!”
Oww.. Instruksi yang cukup sederhana..! Dari sekian keinginan yang sangat mudah untuk didapatkan di sini, tapi satu larangan saja ternyata menjadi tantangan besar untuk bisa tertunaikan. Ada apa dengan manusia??? Satu larangan saja tak mampu ia penuhi… Rupanya kenyataan akan kehadiran 'sang penghasut sombong', menjadi musuh yang menantang hidupnya… Inilah awal dari sebuah pertempuran panjang dan takkan pernah usai hingga seluruh makhluq kembali kepada-Nya.
Cukup lama Ahidi mengamati situasi ini, dan ia pun mendapatkan beberapa pelajaran…
Pelajaran pertama!!! bahwa manusia adalah makhluq sangat lemah dan tak mampu berbuat apa-apa kecuali ia memohon dan menggantungkan dirinya kepada Dzat Yang Memiliki Kekuatan. Ketika kesadaran dirinya sampai kepada keadaan yang begitu hina dalam ketidak berdayaan seiring dengan kepasrahan, kebergantungan, kerelaan dan keridhoan kepada-Nya, maka dia sedang mengosongkan dirinya untuk bersiap menerima kekuatan Yang Sangat Dahsyat “The Real SUPER POWER” and The Only Choice… Allah SWT.
Pelajaran Kedua!!! bukanlah sesuatu itu dikatakan ‘cinta hakiki’ apabila ia diperoleh tidak melalui perjuangan yang pahit dan getirnya sampai mengguncangkan jiwa, bercucuran keringat, berlinang air mata dan bersimbah darah di medan pertempuran hidup sebagai skenario yang pasti atas hukum keseimbangan yang dikehendaki Sang Pencipta.. Dialah Allah SWT yang telah menciptakan alam ini dengan berpasang-pasangan, sebuah kenyataan akan eksitensi Diri-Nya yang Ahad dan tak ada yang esa selainnya, sebagai eksistensi dari Keabadian hakiki di saat segala sesuatu selain-Nya pasti akan hancur, sebagai eksistensi dari ke-Maha Rahmaan dan Rahiim-an yang memberikan Cinta Abadi-Nya di atas segala kesombongan makhluq yang telah keluar dari batas-batas ketentuan-Nya..
Maka, kenyataan akan takdir musuh yang diidzinkan Allah untuk menampakkan kesesatannnya dalam kehidupan ini adalah menjadi jalan dan media pembuktian loyalitas yang tunggal, aktualisasi pembelaan yang tak pernah pudar sebagai wujud kesetiaan atas keimanan yang teguh karunia Allah SWT, sekaligus.. penghancuran bagi seluruh duri-duri yang menghalangi terwujudnya Cinta…
Sang pujangga cinta berkata,”Janganlah kau bingung atas kenyataan orang-orang yang keluar dari cinta-Nya, karena ia telah memilih untuk melawan Cinta… Syurga bagi orang-orang yang mengejar Cinta dan neraka bagi orang-orang yang melawan Cinta…”
Di langkah berikutnya... di saat Ahidi sampai pada pengamatan pelajaran yang ketiga, ia tak kuasa menahan tangis.. tubuhnya tersungkur sujud...
To be continued…

Perjalanan Ahidi sampai di suatu tempat yang hampir tak terdefinisikan… ia berhenti sejenak, merebahkan tubuhnya dan merenung…
Sebuah tempat yang teduh, penuh bunga, dahan, ranting dan dedauan… wangi semerbak mengitari luasnya hamparan rumput-rumput kecil yang turut bergoyang diterpa riuhnya angin… gemericik air menghiasi aliran sungai tiada henti menambah suasana gairah kesejukan alam pegunungan… Kupu-kupu terlihat mengepak sayap, menampilkan keelokan warna-warni tubuhnya yang mungil… Matahari pun meyingsing terbit menggantikan remang-remang kegelapan di pagi hari…
Di awan..., tampak burung-burung pun terbang bebas mengitari angkasa raya, tak ada yang mampu menahannya kecuali Ar-Rahmaan, Sang Pemilik Kasih dan Sayang yang megajarkan manusia untuk terbang mengarungi dirgantara kehidupan di alam kosmos. Bentangan luasnya makrokosmos dan kedalaman mikrokosmos yang tercatat sepanjang umur sejarah, akan membuat bumi kekeringan samudera ketika airnya dijadikan tinta bagi pena-pena yang dipahat dari seluruh persediaan pohon-pohon yang ada. Bahkan, ketika ditambahkan sejumlah itu pula, masihlah tak cukup banyak untuk dapat mengukir catatan tentang keindahan dan hikmah penciptaan alam semesta ini, tak sampai kuasa menuliskan hakikat kehidupan kecuali untaian harmoni dari firman-firman-Nya sebagai penjelasan suci atas arti hidup dan kehidupan ini.
Bagi orang-orang yang pernah berkunjung ke tempat ini, rasanya sulit untuk mau kembali ke kota yang penuh problematika kehidupan. Di tempat ini, semuanya serba gratis.. udara, air minum, sayur-mayur, buah-buahan dan apa saja yang tumbuh di atas tanah tidak perlu ditukar dengan uang … lain halnya dengan kehidupan di kota, semuanya serba komersil.. Apalagi di era globalisasi saat ini, hampir ga ada yang gratisan; udara, air, tanah dan segala isinya adalah komoditi yang dibutuhkan pasar.. Pantas saja di negeri tempat Ahidi tinggal, orang-orang berebut menjadi penguasa.. Karena status quo secara otomatis mengklaim bahwa mereka adalah sosok penguasa bumi yang berhak mengeksploitasi dan menggunakannya untuk kepentingan sendiri meskipun dengan dalih kemakmuran yang adil dan merata… Sekali jadi penguasa, hartapun takkan habis sampai 17 turunan…
Sebetulnya menurut hitungan seorang ahli yang pernah meraih gelar juara olimpiade matematika sedunia… Seandainya dihitung perbandingan antara sumber daya alam yang ada di negeri itu dengan jumlah penduduk yang ada, sangatlah lebih dari cukup untuk memakmurkan dan mensejahterakan semua orang yang hidup di atas tanahnya tanpa perlu adanya program pembunuhan janin atau penundaan jatah hidup calon manusia… tapi dalam kenyataannya, Ahidi masih banyak melihat orang-orang kelaparan yang makan cukup tiga hari sekali berkeliaran di sekitar rumah sakit yang dipenuhi oleh orang-orang sekarat gara-gara kelebihan makanan enak, penyakit orang elit akibat tiga kali sehari makan ga pake aturan.
Banyak pula orang-orang yang berteduh permanen di bawah jembatan-jembatan layang yang menurut mahasiswa teknik sipil,” Jembatan ini cepat lambat bisa roboh gara-gara anggaran pembangunan hanya 20% saja yang jadi konstruksi fisiknya, selebihnya 80% anggaran masuk ke kantong pribadi untuk alokasi pembangunan rumah sendiri, wow.. cukup spektakuler!!!” Akhirnya… di sekitar jembatan reyod itu, berdirilah rumah-rumah super mewah yang harganya selangit dan ga mungkin bisa dibeli dari gaji seorang pegawai negeri meskipun ia menabung 30 tahun lamanya. Suatu saat… seorang gelandangan yang sedang tertidur dan bermimpi tinggal di sebuah istana, mati gara-gara ditimpa jembatan ambruk. Maka, pejabat setempat pun datang turut berduka cita sekaligus malu akan kegagalan pembangunan.
Seminggu kemudian dibentuklah Pasukan Pemburu Koruptor yang kerjanya melacak koruptor-koruptor kecil yang baru magang tapi menjadi saingan perebutan lahan proyek basah mereka.. Keberhasilan Pasukan ini membuahkan acungan jempol dari Sang pejabat, karena medan persaingan para koruptor semakin kecil, sehingga peluang korupsi bagi mereka bisa lebih banyak lagi… hahaha DASAR!
Di tengah kota, Ahidi pun masih banyak menemukan orang-orang yang hilir mudik dengan menggunakan kendaraan mewah yang harganya hampir sebanding dengan biaya kampanye untuk jadi anggota dewan, di sisi lain harga kebutuhan pokok semakin meningkat gara-gara harga minuman mobil-mobil itu melambung tinggi… rakyat kecil hanya bisa berteriak,”TURUNKAN HARGA!”.. Serta merta para caleg pun mencanangkan program rekayasa politik dengan cara meraih wong cilik, mendadak dangdut.. eh mendadak baik, seolah-olah tulus membuai mereka dengan harapan akan keadilan dan kesejahteraan hanya dengan satu syarat yang mudah saja, “TUSUKLAH AKU..” Sebagian masyarakat yang terbuai dengan hasutan politik itu berharap cemas dan berdo’a,”Semoga tanpa perlu mengeluarkan keringat dan darah, cuman dengan satu tusukan ini, akan terjadi perubahan...” Sebagian rakyat yang melek akan tipu daya politik akhirnya dengan geram hanya mampu menusuk-nusuk gambar sang caleg dengan penuh emosi dan merintih sedih seraya berkata,” Ya Allah, keluarkanlah aku dari negeri yang dhalim penduduknya… “
Mendengar kata-kata itu Ahidi tersentak, darahnya seolah berhenti mengalir… Batinnya berkata,”Mereka takkan pernah keluar dari kedhaliman kecuali lahir di antara mereka aktor-aktor pendobrak perubahan… Akulah yang akan membebaskan mereka..!!!”
Baru saja Ahidi beristirahat, lalu ia pun terbangun dari renungan atas kejadian-kejadian di kotanya karena terdengar suara dentuman yang sangat keras…”DUAAARRRRR”… Ahidi pun terperanjat dan segera bersembunyi di balik pepohonan.. “Ya Allah apa yang terjadi di tempat ini… “ Lalu Ahidi berlari mencari tempat yang lebih aman. Akhirnya ia menemukan sebuah mulut Gua yang di depannya tertancap sebuah papan yang bertuliskan dengan jelas. Sambil terengah-engah, Ahidi membaca apa yang tertera di papan itu,
” TEMPAT SIMULASI TEMPUR…
Tertanda : Kerajaan Cinta…..”
To be continued…

...Ahidi sedikitpun tidak bermaksud menyinggung perasaan sang monyet, justru sebaliknya… pada makhluk Allah yang satu ini Ahidi berdecak kagum. Why? Karena sang monyet menjalani hidup sesuai dengan fitrahnya…
Sang monyet sebagai perwakilan dari para binantang bukanlah makhluk hina di hadapan Penciptanya… Allah menciptakan monyet untuk kemudian diungkap dalam firman-Nya menjadi gambaran kehinaan manusia-manusia terkutuk yang telah menyimpang dari jalan-Nya…
Sepanjang petunjuk Sang pencipta, monyet-monyet beneran memang bukan diciptakan untuk mengemban jenis tugas seperti manusia, justru mereka adalah bagian alam yang akan setia melayani manusia dalam menjalankan tugasnya.
Ahidi teringat sebuah pesan ketika sang guru mengajarkan apa artinya makhluq..
- Makhluq adalah segala sesuatu yang diciptakan..
- Ruang… adalah makhluq yang diciptakan
- Waktu… adalah makhluq yang diciptakan
- Materi… adalah makhluq yang diciptakan
- Bahkan seluruh ‘kata keterangan’ sebagai sifat yang menempel pada materi itu pun adalah makhluq yang diciptakan..
Ketika semua komponen itu bersatu, maka orang pintar mengatakan bahwa ia adalah Energi. Sifat energi adalah bergerak, setiap gerak menunjukkan perubahan, setiap perubahan berarti baru, setiap yang baru pastilah ada awalnya, semua yang berawal muncul dari ketiadaan, ia ada karena alasan diciptakan, segala yang tiada tak pernah ada dengan sendirinya, ia tidak memohon untuk diadakan, hingga semua yang ada merupakan kepastian dari kuasa dan kehendak Sang Pencipta. Dia lah Allah SWT yang terus-menerus menciptakan bukan atas kesia-siaan, tapi dengan maksud dan tujuan yang jelas.. agar semua makhluq menjalankan PENGABDIAN kepada-Nya.
Kesadaran akan asal usul ketiadaan itulah yang membuat Ahidi selau bertanya-tanya, ”Mengapa aku hidup? Bukankah aku tak pernah memintanya?” Dalam perjalanannya... pertanyaan itu terus menerus ia ulang hingga tak terasa tiba lah Ahidi di sebuah hutan belantara, lau ia pun berhenti… menarik nafas… dan berteriak…
“YANG AKU TAU... SAAT INI… AKU… AHIDI… DI TEMPAT AKU BERADA, BERDIRI... MENGHADAPI KENYATAAN HIDUP… MEMBAWA SPIRIT UNTUK BERJALAN MENEMUI SANG PEMBERI HIDUP…”
Seketika itu pula, kerajaan kera berguncang gembira, riak dedaunan ikut bergoyang mengimbangi riang tawa dan jingkrak monyet-monyet yang bergelayun di rating-ranting pohon... angin pun berhembus halus seolah melambaikan untaian kata-kata indah dengan janji dan harapan untuk setia menemani, titik-titik embun menetes seolah menahan tangis haru atas kehadiran seorang hamba yang menyadari secuil arti hidup ini…
Di waktu yang sama, di Kerajaan Intelek… monyet-monyet berdasi tengah bersorak gembira pula, menyambut kedatangan sebuah pesta besar, bukan pesta dansa dan bukan pula pesta perkawinan, tapi pesta raksasa, ya.. pesta rakyat kera…
Oooo... rupanya pesta rakyat adalah pesta para pemimpin, pesta kejayaan manusia setengah dewa. Pestanya calon-calon tuhan yang berebut tahta di kancah kedaulatan rakyat… Pesta kompetisi pelipur ambisi para politisi untuk menentukan arah kehidupan di luar batas-batas ketetapan Sang Pemilik Hidup, sabotase atas hukum-hukum Sang Pencipta…
Ketika Ahidi diminta pendapat tentang pesta KERA, Ahidi berkata,”KEdaulatan RAkyat bukanlah pestaku… Pestaku adalah ketika aku berputar, bergerak dengan cepat, melingkari Pusat Orbit, berthawaf dan terus mendekat… merapat… dan terus melekat, terikat kuat... tersimpul kukuh dalam ketunduk patuhan kepada Dzat Sang Pemilik Kedaulatan Tertinggi dan Mutlak, ALLAH SWT.. tiada hak kedaulatan bagi yang lain, meskipun sebesar 'quark'...!"
to be continued...

Kembali pada peristiwa setahun yang lalu...
Ahidi menarik nafas panjang, rupanya perjalanan selama ini cukup berat dan melelahkan. Seluruh waktu hidupnya habis untuk mengejar sebuah ambisi, meraih cita-cita... mengharapkan sebuah perubahan. Ya! perubahan..!!!
Kebosanan Ahidi akan tingkah para Tirani, menumbuhkan karakter kebencian yang membabi buta. Bagaimana Ahidi tak muak, di negeri tempat ia hidup penuh dengan kebohongan para elite, terjadi eksploitasi manusia atas manusia yang lain, ketidakadilan, penindasan, pembodohan masyarakat, penipuan... dan segudang upaya para pembesar untuk tetap besar, asa para penguasa untuk tetap eksis mempertahankan kedaulatan, menghalalkan segala cara...
Kemuakkan Ahidi lebih menjadi-jadi ketika ia menganalisa bahwa jantung perekonomian di negerinya dikendalikan oleh konglomerat penjilat pantat pejabat, para pencetus program rakyat melarat, hingga Dokter hewan berkata,”... di negeri ini memang banyak berkeliaran binatang pengerat alias tikus dengan prosentase kenaikan populasinya yang terus meningkat setiap tahunnya...”
Tokoh politik di negeri itu pun ikut-ikutan gerah seraya berkata,” Saat ini telah terjadi penjajahan para Tirani, rakyat hanyalah menjadi nama yang dikemas halus bagi sebuah kenyataan budak-budak yang telah direnggut hak kemerdekaannya..” Baru saja Ahidi mendengar ucapan itu di televisi kemarin, hari ini ditemukan kabar bahwa sang politikus mengalami kecelakaan parah, mobilnya masuk ke jurang.. dan MELEDAK...Aneh!
Kemudian para ahli medis diterjunkan untuk menganalisa kasus kecelakaan ini.. Munculah sebuah pendapat kontroversial mengenai upaya-upaya konspirasi para penguasa sebagai dalang yang harus bertanggungjawab atas peristiwa ini, maklumlah.. statemen sang politikus menyinggung perasaan sang Raja.. Esoknya, setelah gosip ini ramai di kalangan para dokter, Sang dokter ahli pun dicabut izin prakteknya, ia dituntut telah melanggar kode etik kedokteran.. ADA-ADA SAJA...
Seminggu yang lalu, para mahasiswa penyelenggara even organizer sebuah seminar mengalami kasus serupa, mereka menerima voucher menginap gratis di kantor polisi gara-gara tema yang diangkat dalam seminarnya banyak menyindir ketidakadilan para Tirani. Sepulang dari hotel berpintu besi, mahasiswa-mahasiswa itu di sidang langsung oleh rektornya... Sehari sebelum sidang itu, rupanya sang rektor telah DITEROR orang misterius dengan membawa senjata yang cukup mudah dikenali bahwa mereka adalah aparat. Alhasil, di ujung sidang, para EO pun dipecat dari satus kemahasiswaannya, akhirnya... mereka mengisi kemerdekaan di negeri itu dengan mempertinggi prosentase pengangguran, kemiskinan dan kejahatan.. Hanya itulah yang bisa mereka sumbangkan sebagai wujud dari penghormatannya kepada pahlawan-pahlawan pencetus kemerdekaan dahulu... Jargon mereka,”rakyat adil makmurnya kapan?”
Belum lagi cerita teman-teman sindikat,”... Jaringan narkoba di negeri ini sulit terbongkar, karena dalang-dalangnya adalah orang-orang berseragam yang berlambang bintang...” Isu itu semerbak seiring dengan ramainya penangkapan para pengedar recehan, sekedar kambing hitam kejahatan moral... Ramai pula kisah dari ‘bidadari penjual daging mentah’... yang menurut mereka, kebanyakan pelanggannya adalah wakil-wakil rakyat yang memanfaatkan fasilitas perjalanan dinas di hotel-hotel berbitang.. Seperti biasa, akhirnya sang biang gosip pun kandas di jeruji besi dengan makanan kegelapan dan minuman keterasingan.
Peristiwa seperti itu sudah sering terjadi dan menjadi rahasia umum di negeri tempat Ahidi tinggal... barangkali kenyataan ini memang sengaja diciptakan bukan sebagai rahasia, tapi.. agar orang-orang yang berani melawan Tirani menjadi jera.. bahkan dengan peristiwa itu, sang Raja pun menunjukkan Taringnya.. Cuman monyet-monyet kecil dan pengecut sajalah yang segera bubar hanya karena melihat dua buah Taring Harimau yang belum tentu menggigitnya..
Ahidi sempat berfikir,” Apakah rakyat negeri ini cuman kumpulan monyet pencari pisang yang kerjanya hanya berebut makanan dan berburu perempuan alias si monyet betina kembang desa, eh maaf.. si kembang hutan...???
Ahidi... Ga mau jadi monyet jantan!!!, bukan karena calon istrinya pasti monyet betina... Tapi karena Ahidi menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang diciptakan untuk MULIA...
Tapi sayang... kebencian Ahidi yang membabi buta, membuat dirinya kehilangan CINTA...
to be continued...

...AHIDI bukan jebolan kampus intelek tapi cukup melek perkembangan dunia; Ahidi bukan anak kemarin sore, tapi sampai sore kemarin dia lewati hidup dengan kedewasaan berfikir, berasa dan bertindak; Ahidi bukan anak kampungan, tapi hampir tiap kampung dia datangi; Ahidi ga gaul-gaul amat tapi gaul dikit ga pake amat..
Kelebihan Ahidi.. bisa berteman dengan siapapun, kapanpun dan di manapun; Ahidi punya aura SIMPATI, dengan pakaian ketaqwaan ukuran XL, sehingga menjadi MENTARI bagi orang sekitarnya; Ahidi ramah dan pandai menghargai orang lain, Ahidi punya prinsip dan pendirian yang tak mudah goyah, ia selalu membawa warna dan spirit kehidupan;
Ahidi bukan manusia pada umumnya, tapi yang paling pasti.. Ahidi ga pernah merasa dirinya menjadi seperti itu, baginya hidup adalah bagaimana ia bekerja untuk meraih CINTA...
CINTA... sebuah kata yang pernah ia lirik tipis setahun yang lalu
CINTA... sebuah kata yang membawa dirinya mengembara
CINTA... sebuah kata yang memberi kesan terdalam di hatinya
CINTA... yang kini sebatas kata para pecinta, sekerdil istilah orang-orang mabuk yang selebor pikirannya, sebatas nyanyian dangdut goyangan hati, atau sekedar dorongan nafsu syahwat menuju langkah sesat tak terarah
Tapi... Mungkinkah Ahidi bertemu dengan CINTA?
Kalaulah dia mengingat peristiwa setahun yang lalu, ketika seorang Tua tiba-tiba melemparkan sebuah kertas lusuh penuh gambar dan tulisan aneh seraya berpesan, ’’Hidup di dunia cuman sekali!!!” lalu Sang Tua pun pergi meninggalkannya...
Sejak saat itu, Ahidi memikirkan CINTA, Ahidi selalu mencoba merasakan CINTA, dan Ahidi tak pernah berhenti mencari CINTA...
Saat ini... ketika SANG KHALIQ Hadir Menyaksikan, Menatap hati dalam-dalam, Mendengar lintasan pikiran dan perasaan dengan sangat halus, Mengetahui seluruh bersitan niat dan rencana, bahkan Menggenggam seluruh pergerakan alam, seraya seluruh makhluq pun melihat... Ahidi mencari CINTA di medan kampus intelek...
To be continued...

Setahun kemudian…
Di sebuah pinggiran kota, di tengah hilir mudiknya manusia semi metropolitan dengan berbagai aksesoris kesibukan.. terlihat di ujung jalan, seorang 'pemuda antah berantah' yang tengah berjalan, wajahnya tampak bersinar, semangatnya terlihat dari gairah bicaranya ketika ia menyapa orang yang didapatinya sendirian, santun bahasa tubuhnya memperkaya keelokan dan kedewasaan sang pemuda. Rupanya dia tengah menghampiri seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri.
Konon kabarnya, tidak semua orang bisa masuk perguruan tinggi itu, hanya orang-orang borju 'n the best intelektual saja yang tersaring masuk di jaring laba-laba komoditi profesor, industri pendidikan yang cukup jual tampang gengsi individualistis… Orang-orang ‘terbaik’ versi tuhan intelek berkumpul di kampus ini. Emang ga kepalang, lulusan kampus ini jual dirinya dengan harga dollar, kalaupun pake rupiah pasti bikin kelimpungan komisaris pabrik, belum lagi biasanya kalau lulusan kampus ini cowok, pastinya diburu cewek-cewek materialism versi 2009 yang Pro Kemapanan… tapi kalo lulusannya cewek, ga tau kapan nikahnya, ampir ga kepikiran kali.. mungkin terlalu sibuk ngurusin kacamatanya yang segede-gede keler. Anak gaul juga banyak... biasanya mereka anak-anak kolong yang dipaksain masuk sama babeh n' mamihnya lantaran gengsi..
Biasanya kalo kuliah disitu, emang hampir ga bakalan sempet mikirin orang lain. Untuk menyelesaikan tugas pribadi aja, kayaknya waktu 24 jam belum cukup, mana kejar2 ama bobo lagi. Tapi jangan salah... mereka adalah mahasiswa kebanggaan para orang tuanya, kadang tetangganya aja ikut-ikutan bangga kalo ada anak kampungnya bisa sekolah disitu.. GILE!
Kata orang pinter, intelektualitas mereka terlalu tinggi. Sampai-sampai aspek kecerdasan emosinya ga pernah tersentuh, cenderung individualis dan kurang mau berbagi.. Bagi sebagian mereka yang spiritualitasnya muncul, biasanya cenderung aktif di kegiatan-kegiatan islam yang ga beresiko, cukup untuk bisa sholeh sendirian, ga dulu mikirin yang lain-lain.. yang penting kuliah selesai,
Emang abis kuliah mau ngapain? Cari kerja …
Emang kerja buat apa? Biar dapet duit banyak...
Trus kalo udah dapet duit banyak ngapain? Bisa hidup berkeluarga dengan tenang..
Abis berkeluarga ngapain? Ya punya anak dong...
Abis punya anak ngapain lagi? ya... nyekolahin anak biar pinter-pinter kaya bapaknya dulu..
Abis anaknya pinter ngapain? Ya, gampang cari kerja...
Cari kerja yang bisa dapet duit kayak tadi? ato kerja yang ga usah dapet duit? Ya dapet duit dong...
Abis dapet duit gmn lagi om? Ya hidup berkeluarga dengan tenang...
Itu kan anak-anak, trus Om sendiri bapaknya yang udah berkelurga dengan tenang mau ngapain? Ya hidup di hari tua dengan damai dong..
Trus abis tua dan damai ngapain lagi?....
MAMPUS kau!!!, nanya ga pake aturan, nyeroscos terus...
dasar kampret!
Upps, maaf Om... Abis, muter nya gitu-gitu terus sich, kaya kucing piaraan saya aja. Hidup mandiri, cari makan sendiri, cari istri sendiri, punya anak, kasih makan anak, ngajarin anaknya mandiri biar bisa cari makan sendiri, anaknya punya anak, ngajarin anaknya biar mandiri, biar bisa cari makan sendiri, anaknya anak punya anak lagi, cari makan lagi, MUTEERRRR terus...
Kurang lebih itulah gambaran yang ada di kepala mereka. Hidup bagi mereka adalah meraih kecukupan, kesenangan, kebanggaan, kehormatan, ketenangan dan kedamaian VERSI TUHAN INTELEK..
AHIDI, Sang pemuda tangguh.. rupanya mengetahui keadaan mereka... sehingga hampir setiap hari ia ada di sekitar kampus itu.
Sebenarnya, Apa yang Ahidi cari... ?
to be continued..

Diangkat dari kisah nyata, ditemukan dalam sebuah lembaran wasiat, tentang cerita tersurat penuh makna di kedalaman yang tersirat, jauh lebih hening dari apa yang pernah terpendam di lubuk dan benak yang paling dalam..
Katakanlah ‘AHISLA’, sebuah jalan yang dulu pernah nampak di secarik peta sejarah bumi ini, membentang lurus dengan liku-liku kerikil tajam dan bebatuan besar nan terjal dengan berbagai jenis dan bentuk, beraneka dengan ragam dan corak, seolah-olah membuat orang enggan untuk menapakinya, sekilas terlihat menyesakkan, sekilas jauh nampak tujuan seakan tak kan pernah sampai di ujungnya.
Katakanlah ‘AHIDI’, seorang pemuda tangguh yang sedang termenung, duduk di atas sebuah batu agak lebar yang cukup baginya untuk bersila, mengerutkan dahi, membolak-balik sebuah kertas lusuh dengan catatan dan tulisan yang belum pernah ia baca dan dengar sebelumnya. Lika-liku gambar dalam kertas itu menghiasi kekusaman yang menunjukkan bahwa peta itu mungkin telah ribuan tahun tersimpan, membuat ia semakin mengernyitkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala, kadang kala kepalan tangannya yang besar dia pukulkan ke samping kepalanya yang mulai beruban, matanya ia sipitkan seolah dengan begitu menjadi jawaban ‘apa sebenarnya maksud kertas ini?’, tapi apalah dikata ‘jawaban’ tak pernah keluar dari jutaan memori otaknya, yang lahir hanyalah sebuah pertanyaan konyol, “Kenapa orang tua tadi memberikan kertas ini padaku? Dasar orang tua gila.. bikin pusing kepala, padahal banyak urusan yang lebih penting yang harus aku pikirkan dan jalankan, kertas kuno ini malah menambah persoalan…”
Hampir saja kertas itu ia buang, kecuali hati kecilnya yang selalu menolak, bahkan seolah mengatakan ‘jangan!’, seolah berbisik ‘lihatlah lagi!’, seolah berkata ‘bacalah!’.
Tak tahan dengan kebingungannya, akhirnya Ahidi melemparkan kertas itu, masih tak jauh di hadapannya. Lalu beranjaklah dia untuk pergi mencari kesejukan alam, menghirup udara segar, melupakan peristiwa anehnya, mencari suasana baru… Tapi tak sengaja ujung mataya melirik tipis, agak buram memang, tapi nampak jelas bagi matanya yang belum kena minus or silinder.. Di ujung peta ia menemukan sebuah kata, satu-satunya kata yang bisa ia mengerti artiya, mulai ia membelalakkan mata, menggosok dengan tangannya, semakin jelas.. semakin jelas.. Kemudian ia pun mendekat, jantungnya berdegup kencang, diambilah kertas itu lagi, tangannya sedikit bergetar dan ia pun bergumam, “…CINTA…”
to be continued..
